BANUATODAY.COM,BANJARBARU — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banjarbaru mendirikan tujuh posko pantau strategis di sejumlah wilayah rawan untuk menanggulangi lonjakan kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mencapai puncaknya pada September 2026
Penyiagaan posko ini dilakukan sesuai arahan Wali Kota Banjarbaru agar penanganan di lapangan dapat bergerak lebih cepat dan terintegrasi.
Langkah percepatan ini diambil mengingat frekuensi karhutla yang meningkat pesat hingga mencapai 10 kali kejadian per hari.
Adapun tujuh posko pantau yang disiagakan tersebar di Tambak Buluh, Landasan Ulin Pal 21, Loktabat Utara, Sungai Tiung, Sungai Ulin, Landasan Ulin Utara, serta Guntung Manggis.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Banjarbaru Harun Arrasyid menegaskan bahwa seluruh personel lintas sektor telah dikerahkan ke posko-posko tersebut.
“Jadi BPBD diberikan tugas oleh Wali Kota untuk mengerahkan semua unsur yang bisa membantu, di antaranya stakeholder terkait, TNI-Polri maupun dinas-dinas terkait, juga teman-teman dari relawan,” tegas Harun saat dikonfirmasi Minggu (20/9).
Keberadaan posko-posko ini menjadi benteng utama dalam memantau pergeseran tren sebaran titik api yang kini bergerak ke wilayah utara dan timur Banjarbaru
“Meskipun tidak menutup kemungkinan memang masih ada kejadian-kejadian di sana, yakni di barat dan selatan, trennya saat ini memang mengarah ke utara dan timur,” ungkap Harun.
Berdasarkan data harian Informasi Bencana Karhutla BPBD Kota Banjarbaru per 19 September 2026, tercatat sebanyak 27 titik kejadian dengan luas area terbakar mencapai 49,00 hektare dalam sehari.
Dari angka tersebut, petugas gabungan di lapangan berhasil memadamkan lahan seluas 31,89 hektare.
Konsentrasi kejadian terbanyak berada di wilayah pemantauan Kelurahan Landasan Ulin Timur dan Guntung Manggis yang masing-masing mencatatkan 7 kejadian.
Meski posko pantau telah disiagakan penuh, tim gabungan masih menghadapi tantangan berat akibat krisis air pasca mengeringnya sumber-sumber alami.
“Kami sangat bergantung pada pasokan air dari luar. Air yang alami di samping daerah yang terkena karhutla hampir dipastikan sudah sangat-sangat kering,” kata Harun.
Selain masalah air, petugas di posko pantau juga harus memutar otak ketika menghadapi kebakaran di lahan tidur milik pribadi yang terkunci dan dipagari.
“Itu yang mungkin menjadi problem bagi kami. Pemadaman sedikit lebih susah daripada yang tidak dipagar,” pungkas Harun.
Keberadaan tujuh posko pantau ini diharapkan dapat menahan laju penambahan luasan lahan terbakar di Kota Banjarbaru yang hingga saat ini secara akumulatif telah menembus angka 1.698 hektare.(yan/rdh)

