![]() |
| PERJUANGAN: Kontingen Indonesia raig 39 medali di Asian Gems Aichi-Nagoya 2026/Foto Gilang/kemenpora.go.id |
BANUATODAY.COM, JAKARTA – Kontingen Indonesia menutup perjuangan di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 dengan torehan lima medali emas. Raihan tersebut melampaui target empat emas yang ditetapkan sebelum keberangkatan ke Jepang.
Secara keseluruhan, Indonesia mengoleksi 39 medali yang terdiri atas lima emas, 11 perak, dan 23 perunggu. Dalam klasemen akhir, Indonesia menempati peringkat ke-16.
Lima emas tersebut berasal dari cabang olahraga yang masuk dalam 21 cabor unggulan. Bulu tangkis menyumbangkan dua emas melalui nomor beregu putra serta pasangan ganda putra Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin.
Tiga emas lainnya dipersembahkan Rahmat Erwin Abdullah dari angkat besi, Desak Made Rita Kusuma Dewi dari panjat tebing, serta Nurisa Dian Ashrifah dari panahan.
Prestasi Nurisa menjadi salah satu catatan bersejarah bagi Indonesia. Emas yang diraih pada nomor compound putri tersebut menjadi medali emas pertama Indonesia dari cabang panahan sepanjang keikutsertaan di Asian Games sejak cabang tersebut dipertandingkan secara resmi pada 1978.
Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir menyampaikan apresiasi kepada para atlet, pelatih, ofisial, federasi olahraga, Komite Olimpiade Indonesia (KOI), serta Chef de Mission (CdM) Kontingen Indonesia yang terlibat dalam persiapan hingga pelaksanaan Asian Games 2026.
Menurut Erick, keberhasilan mengumpulkan lima emas tidak terlepas dari kerja bersama seluruh unsur dalam ekosistem olahraga nasional.
“Lima emas ini bukan hasil kerja satu pihak, tetapi hasil dari ekosistem olahraga yang bekerja bersama,” ujar Erick.
Erick menilai keberhasilan melampaui target juga menunjukkan pentingnya pemetaan cabang olahraga dan potensi atlet sebelum menentukan sasaran prestasi.
Indonesia, menurutnya, perlu semakin cermat menentukan cabang, nomor pertandingan, serta atlet yang memiliki peluang meraih prestasi. Dengan demikian, target yang ditetapkan dapat memiliki dasar yang terukur dan menjadi acuan dalam proses persiapan maupun evaluasi.
“Target bukan angka yang dibuat di atas kertas, tetapi angka yang punya dasar dan bisa dipertanggungjawabkan,” katanya.
Menpora juga menekankan agar strategi pembinaan ke depan tidak hanya berorientasi pada jumlah atlet yang dikirim, tetapi mempertimbangkan peta kekuatan dan peluang medali setiap cabang olahraga.
Lima emas Indonesia di Aichi-Nagoya berasal dari panahan, bulu tangkis, panjat tebing, dan angkat besi yang juga merupakan cabang olahraga Olimpiade. Karena itu, capaian tersebut dinilai dapat menjadi dasar untuk memperkuat pembinaan menuju kompetisi tingkat dunia, termasuk Olimpiade Los Angeles 2028.
“Kita punya fondasi yang harus terus kita jaga dan kembangkan. Panahan, bulu tangkis, panjat tebing, dan angkat besi harus kita bina secara konsisten, bukan hanya untuk SEA Games dan Asian Games, tetapi kita siapkan untuk bisa bersaing dan meraih medali di Olimpiade 2028,” ujar Erick.
Selain lima emas, Menpora turut menyoroti cabang olahraga yang mampu mencapai final dan meraih medali perak. Salah satunya voli pantai putra yang diperkuat Bintang Akbar dan Sofyan Rachman. Indonesia meraih perak setelah mencapai partai final, sekaligus kembali naik podium Asian Games setelah terakhir meraih medali pada edisi 2018.
Menurut Erick, pencapaian tersebut menunjukkan adanya cabang olahraga lain yang memiliki potensi untuk dikembangkan. Hasil di Asian Games, kata dia, perlu menjadi bahan evaluasi untuk menentukan prioritas pembinaan berikutnya.
Raihan di Aichi-Nagoya 2026 selanjutnya menjadi bahan evaluasi Kemenpora bersama seluruh pemangku kepentingan olahraga untuk menyusun strategi pembinaan menuju berbagai ajang internasional, termasuk SEA Games 2027 dan Olimpiade Los Angeles 2028. (naz/fsl)

