Trending

Kue Bangkit Berbahan Tepung Tulang Haruan, Inovasi UMKM Martapura Manfaatkan Limbah Ikan

KUE: Kue Bangkit Siti Nurul Hidayah ciptakan inovasi dari tepung tulang ikan haruan/Foto Naza


BANUATODAY.COM, MARTAPURA – Kue bangkit umumnya dikenal sebagai kudapan bercita rasa manis dan gurih dengan bentuk yang sederhana. Namun, Siti Nurul Hidayah menghadirkan inovasi berbeda dengan memanfaatkan tepung dari tulang ikan haruan sebagai salah satu bahan campurannya.

Inovasi tersebut dikembangkan Siti dari kediamannya di Kompleks Citra Permata Biru Blok 2, Sekumpul, Martapura. Di dapurnya, tulang ikan haruan yang sebelumnya hanya menjadi limbah diolah menjadi tepung sebelum digunakan dalam pembuatan kue bangkit.

Ide tersebut muncul setelah Siti mengikuti pelatihan pengolahan ikan gabus atau haruan yang digelar Dinas Perindustrian Provinsi Kalimantan Selatan sekitar dua tahun lalu.

Selama lima hari mengikuti pelatihan, ia mempelajari berbagai teknik pengolahan ikan, mulai dari pembuatan albumin, abon hingga tepung tulang ikan.

Pengetahuan tersebut kemudian dikembangkan menjadi produk kue bangkit yang memiliki ciri khas tersendiri. Siti bahkan membuat bentuk kue menyerupai ikan haruan untuk memperkuat identitas produk.

“Karena kita orang Martapura terkenal dengan kue bangkit. Kalau biasanya bentuknya persegi panjang, kami membuatnya berbentuk ikan, lengkap dengan mata, karena bahan dasarnya juga ikan haruan,” jelas Siti.

Dalam proses produksinya, tulang ikan haruan tidak langsung dicampurkan ke dalam adonan. Tulang yang masih segar terlebih dahulu dibersihkan dan menjalani proses pengolahan selama kurang lebih dua hari hingga berubah menjadi tepung.

Setelah menjadi tepung, bahan tersebut baru dicampurkan ke dalam adonan kue bangkit.

Pemanfaatan tulang haruan juga sejalan dengan usaha Siti yang selama ini mengembangkan berbagai produk olahan ikan, seperti abon, nugget dan bakso berbahan ikan haruan.

Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku, Siti menjalin kemitraan dengan sekitar empat pelaku UMKM pengolahan ikan haruan di Kecamatan Martapura Timur.

Tulang ikan yang sebelumnya dibuang kini dikumpulkan untuk diolah kembali. Selain mengurangi limbah, pemanfaatan tersebut juga memberikan nilai ekonomi tambahan bagi pelaku usaha yang menjadi mitranya.

Produk kue bangkit berbahan tepung tulang haruan itu dipasarkan dengan harga sekitar Rp15 ribu untuk kemasan kecil dan Rp20 ribu untuk kemasan lebih besar. Salah satu kemasan berbentuk box berisi sekitar 24 keping kue yang dikemas secara terpisah.

Respons konsumen terhadap produk tersebut juga mulai menunjukkan perubahan. Siti mengakui pada awalnya sebagian masyarakat masih ragu mencicipi kue setelah mengetahui bahan yang digunakan berasal dari tulang ikan.

Namun, keraguan tersebut berkurang setelah konsumen mencobanya.

“Awalnya banyak yang takut karena mendengar tulang ikan. Tapi setelah dicoba, ternyata rasanya tidak seperti ikan. Rasanya manis dan gurih,” ujarnya.

Pemasaran kue bangkit tersebut saat ini masih dilakukan secara bertahap. Selain dipasarkan kepada konsumen, produknya juga beberapa kali mendapat pesanan untuk kegiatan Dinas Perikanan Provinsi Kalimantan Selatan dan dibawa dalam kegiatan promosi di luar daerah.

Di tengah pengembangan produk, Siti masih menghadapi kendala dalam proses produksi, terutama pada tahap pembuatan tepung tulang ikan.

Peralatan yang digunakan masih sederhana dan mengandalkan blender. Kondisi tersebut membuat proses penepungan membutuhkan waktu serta tenaga yang relatif lebih besar.

Siti berharap ke depan terdapat dukungan dari investor maupun melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) untuk membantu pengadaan peralatan produksi yang lebih memadai.

Menurutnya, dukungan tersebut dapat membantu meningkatkan kapasitas produksi sekaligus mengembangkan pemanfaatan tulang ikan haruan sebagai produk bernilai ekonomi.

Inovasi tersebut diharapkan tidak hanya menjadi alternatif pengolahan limbah ikan, tetapi juga membuka peluang usaha baru bagi pelaku UMKM pengolahan ikan haruan di Martapura dan sekitarnya. (naz/fsl)

Lebih baru Lebih lama