BANUATODAY.COM, BANJARMASIN – Adanya guru honorer SD Tanjung Pagar 3 yang meninggal karena asmanya kambuh akibat kabut asap, menjadi perhatian serius dunia pendidikan di Banjarmasin.
Informasi yang didapat asmanya kambuh saat kondisi kabut asap melanda Banjarmasin. Paparan asap dapat mengiritasi saluran pernapasan dan memicu gejala asma seperti sesak dan sulit bernapas.
Namun, belum ada keterangan medis yang menyatakan kabut asap sebagai penyebab langsung meninggalnya guru tersebut. Kondisi tersebut menjadi perhatian Pemko Banjarmasin. Apalagi, Mendikdasmen telah menerbitkan Surat Edaran Nomor 20 Tahun 2026 tentang layanan pendidikan di daerah terdampak asap karhutla. Keselamatan dan kesehatan peserta didik, pendidik, serta tenaga kependidikan menjadi salah satu pertimbangannya.
Sekdako Banjarmasin Ichrom Muftezar mengatakan, pihaknya akan mengkaji aspirasi guru yang meminta kebijakan khusus selama kabut asap. Salah satunya penerapan work from home (WFH) apabila kualitas udara dinilai berisiko.
“Salah satu harapannya adalah penerapan WFH apabila kondisi udara dinilai berisiko,” ungkapnya kepada awak media Kamis (1/10/2026).
Aspirasi tersebut, lanjut Tezar, akan disampaikan kepada Wali Kota Banjarmasin untuk menentukan kebijakan yang tepat. Ia juga menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Lisna.
“Semoga keluarga yang ditinggalkan mendapatkan ketabahan,” ujarnya.(Yan/fsl)

