Trending

Puluhan Balita dan Lansia,Termasuk Relawan Dirawat di RSUD Ratu Zalecha

 

BESUK :Bupati Banjar, Saidi Mansyur saat membesuk enam relawan pemadam kebakaran yang dirawat di ruang UGD RSUD Ratu Zalecha, Martapura./foto:istimewa


BANUATODAY.COM,MARTAPURA – Jumlah penderita Infeksi Saluran Penapasan Akut (ISPA) terus bertambah karena kabut asap,termasuk di Kabupaten Banjar Kalimantan Se;latan,]

 Direktur RSUD Ratu Zalecha, Arief Rahman membeberkan, bahwa bangsal rumah sakit terus menerima rujukan pasien yang mengalami gangguan pernapasan akibat memburuknya kualitas udara.

"Berdasarkan data rawat inap kami sejak 1 September hingga 12 Oktober 2026, tercatat sudah ada 76 pasien ISPA yang harus dirawat inap," ungkap Arief.

Yang cukup memprihatinkan, Arief merinci bahwa sebagian besar pasien rawat inap tersebut merupakan kelompok usia yang paling rentan. 

Terdapat 50 pasien atau sekitar 65 persen di antaranya yang berstatus balita 30 orang, dan anak-anak sebanyak 20 orang. 

Sementara itu, pada layanan rawat jalan, RSUD Ratu Zalecha melayani 98 pasien ISPA yang mayoritas merupakan kelompok dewasa 45 orang, dan lansia 26 orang.

Ancaman kabut asap di Kabupaten Banjar tidak berhenti pada ISPA. Arief menjelaskan, pihak rumah sakit juga harus bekerja keras menangani 41 pasien pneumonia. 

Sebanyak 17 pasien di antaranya harus menjalani rawat inap, sedangkan 24 lainnya rawat jalan.

Berbeda dengan ISPA yang banyak menyerang anak-anak, pasien pneumonia di RSUD Ratu Zalecha justru didominasi oleh kalangan lanjut usia (lansia) dan orang dewasa.

Kondisi kritis akibat paparan asap ini, kata Arief, sempat terekam jelas dari catatan medis per 5 Oktober lalu. 

Saat itu, terdapat lima anak dan balita yang harus dirawat intensif karena mengalami komplikasi ISPA dan pneumonia secara bersamaan, berdampingan dengan lima pasien dewasa yang ditangani dengan keluhan serupa.

Tingginya angka rujukan dengan tingkat keparahan tinggi di RSUD Ratu Zalecha sejalan dengan temuan kasus di tingkat fasilitas kesehatan pertama. 

Kondisi di rumah sakit diyakini baru sebatas fenomena gunung es dari total penderita di masyarakat.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Banjar mencatat terdapat 2.221 kasus ISPA selama periode September 2026. 

Angka tersebut diyakini jauh lebih kecil dari kondisi riil di lapangan karena baru merupakan rekapitulasi dari lima puskesmas yang terdampak paling parah.

Kasus tertinggi ditemukan di wilayah kerja Puskesmas Sungai Tabuk 1 dengan 605 kasus. 

Menyusul Puskesmas Kertak Hanyar dan Martapura 2 yang masing-masing mencatat 504 kasus. 

Kemudian, Puskesmas Gambut dengan 397 kasus, serta Puskesmas Cintapuri Darussalam sebanyak 211 kasus.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kabupaten Banjar, Hj Mariana, menegaskan bahwa pemantauan ketat terus dilakukan, terutama di wilayah-wilayah yang paling pekat terpapar asap karhutla setiap harinya.

“Dinas Kesehatan terus memantau kondisi kesehatan masyarakat, khususnya perkembangan kasus ISPA ini,” ungkap Mariana pekan lalu.

Dinkes Banjar kini telah menginstruksikan seluruh puskesmas bersiaga penuh.

 Langkah deteksi dini terhadap setiap pasien yang datang dengan keluhan pernapasan diperkuat.

 Hal ini dilakukan agar penanganan medis terutama bagi pasien yang berpotensi berkembang menjadi pneumonia tidak terlambat.

“Puskesmas diminta meningkatkan kesiapsiagaan pelayanan dan melakukan deteksi dini,” tegas Mariana.

Selain fokus pada pengobatan, Dinkes juga berkoordinasi dengan lintas sektor dan memprioritaskan pembagian masker bagi kelompok paling berisiko, yakni anak-anak, lansia, dan warga yang sudah bergejala. 

“Di tengah kualitas udara yang belum stabil seperti ini kami imbau agar masyarakat meminimalisir aktivitas luar ruangan. Dan segera mendatangi fasilitas kesehatan apabila mengalami sesak napas,” pungkasnya(yan/fsl)

Lebih baru Lebih lama