Trending

ISPA Kalsel Melonjak akibat Karhutla, Ratusan Titik Rumah Oksigen Disiagakan

 

MELONJAK : ISPA di Kalimantan Selatan melonjak tajam akibat semakin pekatnya kabut asap/foto;yuanda

BANUATODAY.COM,BANJARBARU – Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kalimantan Selatan mengalami peningkatan signifikan akibat maraknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalsel mencatat lonjakan kasus hingga 60 persen.  

Kepala Dinkes Kalsel, dr Diauddin, mengungkapkan data tersebut terpantau melalui Sistem Kewaspadaan Dini Respons secara mingguan. Sebelum kabut asap melanda, kasus ISPA di Kalsel berkisar antara 5.000 hingga 6.000 kasus per minggu.  

"Setelah terjadinya karhutla ini, naik menjadi sekitar dari 8.000 sampai 11.000 kasus ISPA setiap minggunya," ungkap dr Diauddin.  

Saat ini, tren penambahan pasien tertahan pada angka yang tinggi,Kasus terbanyak dilaporkan terpusat di tiga wilayah, yakni Kota Banjarmasin, Kabupaten Banjar, dan Kota Banjarbaru. 

Menurutnya, jumlah kasus di kawasan tersebut dinilai sejalan dengan padatnya jumlah penduduk dan paparan asap karhutla yang menonjol.  

Menyikapi kondisi udara yang memburuk, Dinkes Kalsel sebenarnya telah mengambil langkah antisipasi sejak akhir Juli lalu. 

Surat instruksi kewaspadaan telah dikirimkan ke seluruh rumah sakit dan Dinkes tingkat kabupaten/kota.  

"Kita minta kesiapan SDM diperkuat, obat-obatan, kemudian juga masker dan lain-lain disiapkan untuk menghadapi karhutla," tegasnya.  

Langkah taktis yang saat ini berjalan adalah pengoperasian 113 titik rumah oksigen. 

Oksigen konsentrat disiagakan di Puskesmas, rumah bidan, hingga Posyandu di berbagai wilayah yang paling terdampak kabut asap.  

Selain itu, tim kesehatan provinsi juga turun memberikan pelayanan kesehatan langsung ke masyarakat umum, serta mengedukasi dan membagikan masker ke sekolah, universitas, hingga pesantren.  

Meski langkah penanganan terus digenjot, dr Diauddin menegaskan bahwa hal tersebut hanyalah upaya meminimalisasi dampak, bukan menyudahi persoalan utama. 

"Penyakit yang timbul ini kan dampak sebetulnya. Yang jelas sebabnya (karhutla) dihilangkan. Itu kan intinya," tegas dr Diauddin.  

Menurutnya, membagikan masker secara massal tidak akan pernah cukup karena terbentur batas logistik. Masker cepat kotor dan maksimal hanya bertahan sekitar dua jam di tengah kepungan asap. 

"Ya kita berharap hujan cepat turun untuk membersihkan udara kita lagi," tutupnya(yan/fsl)

Lebih baru Lebih lama