Trending

Gubernur Kalsel H Sahbirin Noor Terima Satyalancana Wira Karya Bidang Pertanian

 



PENAS - Gubernur Kalsel, Sahbirin Noor disematkan Penghargaan Satyalancana Wira Karya Bidang Pertanian oleh Menteri Pertanian Syahril Yasin Limpo mewakili Presiden Joko Widodo dalam acara Pekan Nasional (PENAS) XVI Petani Nelayan Indonesia di Lapangan Udara (Lanud) Sultan Sjahril, Kota Padang, Sabtu (10/6/2023). Biro Adpim

BANUATODAY.COM, PADANG - Satu lagi prestasi diraih Gubernur Kalimantan Selatan, H Sahbirin Noor. Gubernur Kalsel meraih penghargaan penghargaan Presiden berupa Tanda Kehormatan Satyalancana Wira Karya Bidang Pertanian.

Satyalencana ini disematkan Menteri Pertanian RI Syahril Yasin Limpo di Lapangan Udara (Lanud) Sultan Sjahril, Kota Padang, mewakili Presiden, Sabtu (10/6/2023).

Pemberian penghargaan ini, bersamaan dengan pada Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan Indonesia ke-XVI yang dihelat di Padang, Sumatera Barat.

“Terima kasih kepada Presiden RI, Jokowi atas penghargaan tanda kehormatan Satyalancana Wira Karya. Ini menjadi semangat kami untuk terus berkarya memajukan bidang pertanian dan peternakan di Kalsel,’ katanya.

Lanjut Ia menerangkan, keberhasilan meraih penghargaan Satyalancana Wira Karya adalah bentuk komitmen dan gagasan keberhasilan inovasi program Siska Ku Intip (Sistem Integrasi Kelapa Sawit Sapi Berbasis Kemitraan Usaha Ternak Inti Plasma).

BACA JUGA 58 Desa di Kabupaten Tanah Bumbu Ikuti Pilkades Serentak September 2023

“Program ini adalah sinergi kegiatan peningkatan produksi dan populasi sapi melalui pemanfaatan lahan sawit inti-plasma, pemanfaatan limbah industri sawit dan pelepah sawit untuk pakan ternak, penguatan pembiayaan dengan perusahaan perkebunan kelapa sawit, dan penguatan rantai pasok ternak dan hasil ternak,” terangnya.

Lalu disampaikannya, ketersediaan pasokan, telah terbentuk 20 klaster Siska Ku Intip yang tersebar di 4 kabupaten yaitu Tanah Bumbu, Tanah Laut, Barito Kuala, dan Tabalong.

Dengan adanya program Siska Ku Intip, harga biaya produksi sapi menjadi lebih terjangkau, memenuhi indikator keterjangkauan harga, jauh lebih efisien (57,37%) dibandingkan daging konvensional, sehingga mampu menyediakan daging sapi dibawah harga pasar.

“Setelah adanya program Siska Ku Intip, pola produksi sapi telah berubah menjadi berbiaya rendah, karena memanfaatkan sumber pakan yang ada di kebun sawit,” tutupnya. Biro Adpim. MC Kalsel/ARH (pr/win)




Lebih baru Lebih lama