Trending

Jelang Ramadan, Pasokan Gula Industri Dibatasi: Harga Naik, Kebutuhan Kalsel Tembus 15 Ribu Ton

PASOKAN: H. Aftahudin saat diwawancarai rekan wartawan mengenai pasokan gula jelang Ramadan 2026 - Foto Dok

BANUATODAY.COM, BANJARMASIN – Menjelang Ramadan 1447 H, pasokan gula di Kalimantan Selatan menghadapi tekanan akibat pembatasan distribusi gula industri dari pemerintah pusat. Kebijakan tersebut berdampak pada terserapnya gula konsumsi di pasaran dan memicu kenaikan harga di tingkat ritel.

Ketua Asosiasi Gula Bersatu Kalsel, H. Aftahuddin atau yang akrab disapa H. Aftah, mengungkapkan bahwa izin impor gula mentah untuk kebutuhan industri memang telah diterbitkan. Namun, alokasi distribusinya dibatasi, yakni 60 persen untuk pabrikan dan 40 persen untuk BUMN.

“Ini jadi musibah juga bagi kita. Saat masuk Ramadan, kesiapan penyaluran ke BUMN belum optimal. Akhirnya industri banyak yang mengeluh dan menggunakan gula konsumsi,” ujarnya saat diwawancarai, Selasa (17/2/2026).

Menurutnya, ketika gula industri terbatas, pelaku industri makanan dan minuman beralih menggunakan gula konsumsi. Akibatnya, stok di pasaran berkurang di tengah meningkatnya permintaan masyarakat jelang Ramadan.

“Itu hukum ekonomi. Permintaan banyak, barang kurang, harga naik. Jadi bukan permainan pedagang,” tegasnya.

Di Kalimantan Selatan, kebutuhan gula selama Ramadan diperkirakan mencapai 15.000 ton per bulan, meningkat dari rata-rata kebutuhan normal sekitar 12.000 ton per bulan. Lonjakan ini dipicu meningkatnya aktivitas pasar murah, pembelian paket sembako, serta produksi UMKM yang biasanya melonjak saat bulan puasa.

Saat ini, stok gula di Kalsel tercatat sekitar 60.000 ton. Harga eceran berada di kisaran Rp17.000 per kilogram, naik dari sebelumnya sekitar Rp16.000 per kilogram.

“Termasuk mahal dibanding sebelumnya, tapi kita berusaha agar tidak melonjak lebih tinggi lagi,” katanya.

Tak hanya gula, distribusi minyak goreng juga menjadi perhatian. Pihak koperasi mendapat penugasan untuk menyalurkan minyak goreng sesuai harga eceran tertinggi (HET) Rp15.700 per liter. Namun, dari kebutuhan sekitar 40 kontainer menjelang Ramadan, pasokan yang tersedia masih terbatas.

Distribusi minyak goreng yang ada diprioritaskan untuk operasi pasar guna menjaga stabilitas harga dan keterjangkauan bagi masyarakat.

“Kita khususkan banyak untuk operasi pasar supaya masyarakat tetap dapat harga standar pemerintah,” jelasnya.

Ia memastikan pihaknya telah berkoordinasi dengan kementerian terkait untuk membahas pengadaan gula bagi koperasi dan UMKM. Pemerintah disebut memberi sinyal akan menindaklanjuti usulan penguatan pasokan tersebut.

Meski demikian, H. Aftah mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembelian berlebihan atau panic buying karena dapat memperparah kelangkaan di tingkat ritel.

“Jangan panic buying. Kalau diborong, barang kosong, harga naik lagi. Kita berusaha supaya stok tetap ada dan harga stabil,” pungkasnya.

Dengan meningkatnya kebutuhan bahan pokok menjelang Ramadan dan Idulfitri, stabilitas pasokan dan distribusi dinilai menjadi kunci agar lonjakan harga tidak semakin membebani masyarakat. (naz/fsl)


Lebih baru Lebih lama