Trending

Harga Semangka Anjlok, Petani Beralih Tanam Cabai

 

ANJLOK : Harga semangka yang sekarang anjlok Karana kemarau/han

BANUATODAY.COM,BATULICIN  – Petani di Kabupaten Tanah Bumbu mengubah strategi budidaya dengan beralih dari semangka ke cabai pada musim kemarau tahun ini. Selain terkendala minimnya pasokan air, harga semangka di tingkat petani juga mengalami penurunan.

Alfiannor (40), petani asal Kecamatan Simpang Empat, mengatakan harga semangka sebelumnya sempat mencapai Rp8.600 per kilogram. Namun, belakangan turun menjadi sekitar Rp5.500 per kilogram.

Menurut dia, penurunan harga dipengaruhi pasokan dari Kabupaten Hulu Sungai Selatan yang masih mampu memproduksi semangka saat musim kemarau karena didukung karakteristik lahan gambut.

"Kalau di sana musim panas justru bisa tanam. Saat musim hujan mereka yang tidak bisa tanam. Di Tanah Bumbu bisa," ujarnya.

Selain faktor harga, kemarau panjang membuat budidaya semangka di Tanah Bumbu sulit dilakukan. Tanaman yang membutuhkan banyak air tidak mampu bertahan karena hujan tidak turun dalam beberapa waktu terakhir.

Sebelumnya, ia menanam sekitar 4.000 pohon semangka. Kini lahan tersebut dialihkan menjadi kebun cabai ori dengan jumlah sekitar 8.000 pohon. Ia juga menerapkan sistem tumpang sari dengan menanam jagung, pepaya, dan labu.

Tanaman cabai yang kini berumur sekitar satu setengah bulan diperkirakan mulai dipanen dalam waktu sekitar satu bulan lagi. Untuk mengembangkan usaha tersebut, ia menginvestasikan modal sekitar Rp40 juta.

Hasil panen akan dipasarkan ke sejumlah pasar di Kabupaten Tanah Bumbu. Dalam sekali panen, produksi diperkirakan mencapai sekitar 200 kilogram dan dapat dipanen dua kali dalam sepekan. Harga cabai di tingkat petani saat ini sekitar Rp70 ribu per kilogram.

"Cabai ini bisa bertahan selama delapan bulan sampai satu tahun, tergantung perawatan," katanya.

Meski prospeknya dinilai lebih menjanjikan, petani masih menghadapi tingginya biaya produksi, terutama harga pupuk nonsubsidi. Harga pupuk kini mencapai sekitar Rp925 ribu per karung, naik dari sebelumnya sekitar Rp700 ribu.

Ia mengaku tidak berani menggunakan pupuk dengan kualitas yang belum terbukti demi menekan biaya. "Kita tidak ingin coba-coba, karena yang ditanam ini duit," ujarnya.

Sebagai petani mandiri, Alfiannor berharap pemerintah juga memberikan perhatian kepada petani swadaya melalui bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan). Menurutnya, dukungan tersebut akan membantu meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya produksi.(han/rdh)

Lebih baru Lebih lama